Semoga Air Asia Panjang Umuuurrr!

IMG-20140413-WA0016

 

Rejeki bisa datang dari mana saja.

Ya, kalimat pepatah tersebut sangat pas untuk saya, salah satunya hubungan saya dengan Air Asia.

***

Suatu hari di penghujung tahun 2012, teman saya datang dari Kalimantan, mengajak bertemu, dan kemudian memperkenalkan saya pada temannya lagi, yang saat itu baru pindah ke Jogja. Meli namanya. Bekerja di Air Asia, dari Bali, Semarang, hingga akhirnya dipindahkan ke Jogja.

Dari sore itu bermula, kami yang sama-sama di Jogja lalu menjadi akrab. Anaknya gampang diajak ke mana-mana, suka makan juga seperti saya. Jadilah saya mengajaknya ke acara-acara seni, makan ke sana ke sini, nonton di bioskop, dan lain sebagainya.

Hingga setahun kemudian di penghujung tahun 2013 menuju 2014, Meli berkata: Kado ulangtahunmu besok tiket Air Asia aja ya, mau ke mana?

Saya: Hah? Gratis??

Meli: Iya, ta’ kasih kupon perjalanan, PP.

Saya yang biasanya ke mana-mana naik kereta api, tentu saja sangat bersemangat membayangkan perjalanan dengan Air Asia. Kemudian saya langsung mencari-cari rute yang pas dan menarik. Ternyata keberangkatan dari Bandara Adi Sucipto Yogyakarta sangat terbatas, maka saya melebarkan mata sampai Juanda. Dari mulai mempertimbangkan Makassar, sampai akhirnya memutuskan untuk ke Bangkok. Ya, Bangkok, pertama kali ke luar negeri, akan berangkat sendirian, ke negara yang tulisan dan bahasanya keriting. I FEEL SO EXCITED!!!

Bahkan saya tak terpikir lagi untuk takut atau khawatir. Saya yakin dan percaya mampu melakukan perjalanan ini dengan maksimal. YEAY!

***
Awalnya saya ingin ke Bangkok tepat di hari ulang tahun saya, 21 Maret. Tapi ketika saya mengobrol dengan Akbar, teman dekat saya, dia bilang akan ke Bangkok bulan April, tepat ketika Festival Songkran dirayakan. Sontak saya mengubah jadwal keberangkatan supaya bisa menikmati Songkran dan Bangkok bersama Akbar dan teman-temannya di bulan April!

Dan tibalah saatnya. Saya berangkat dari Jogja menuju Surabaya menggunakan kereta api, lalu menikmati Surabaya pagi hingga siang hari, lalu menuju bandara dan menikmati Juanda menjelang sore hari. Saya banyak bertemu rombongan penjemput TKI di sana, dan bahkan beberapa kali orang-orang mengira saya akan berangkat kerja ke Bangkok sebagai TKW. 😀

Di ruang tunggu, saya bertemu dengan seorang ibu yang akan kembali ke Malaysia, setelah pulang selama empat bulan merawat ibunya. Beliau bercerita tentang majikannya yang sangat baik, pengertian, menganggapnya sebagai keluarga sampai-sampai suaminya pun mereka terima bekerja di sana. Selain berita yang selama ini beredar di masyarakat, masih ada orang-orang yang merasa bahagia dengan apa yang mereka lakukan, bekerja sebagai TKI di tanah orang. 🙂

***

Singkat cerita, sampailah saya di Bangkok, saat itu pukul 19.50. Agak was-was juga karena harus menjelajah di malam hari. Saya hanya punya modal keyakinan saja. Dan benar, setelah tanya orang, naik bus, jalan kaki, tanya orang dengan bahasa tarzan, jalan kaki lagi, naik bus lagi, tanya orang lagi, lagi, lagi, saya akhirnya sampai juga di penginapan. Dari Don Mueang sampai ke penginapan saya yang berada sekitar 1 km dari Khaosan Road itu memakan waktu 4 jam! Hahahaaa. Tapi saya tidak menyesal dan mengeluh sama sekali. Saya bahagiaaa…

Sampai di kamar tentu saja saya tepar. Tapi esok paginya, saya sudah siap kembali untuk menjelajah. Janjian untuk bertemu Akbar dan teman-temannya masih di malam hari, jadi saya bersiap untuk jalan-jalan sendiri.

Berbekal googling, saya mengikuti rute untuk sampai di Masjid Jawa. Saya merasakan naik ojek di Bangkok, yang menurut saya motornya terasa lebih kokoh daripada motor-motor di Indonesia. Lalu naik skytrain, lalu naik ojek lagi. Sampailah saya di Masjid Jawa. Di depan Masjid Jawa terdapat makam, saat itu baik masjid maupun makam tampak ramai. Saya pun memberanikan diri untuk bertanya, ternyata memang ada yang meninggal dan baru saja dimakamkan.

Di situ saya merasa sangat lega karena melihat banyak orang berjilbab dan pastinya bertebaran makanan halal. Karena sedang ramai dan belum masuk waktu dhuhur, akhirnya saya berjalan-jalan dulu sambil menunggu saat untuk sholat. Iseng saya masuk ke dalam sebuah toko kue kecil, bernama Choco Rang. Saya mengobrol dengan orang-orang yang ada di situ, pemiliknya seorang ibu yang mungkin seumuran ibu saya, meladeni semua pembeli sendirian. Ternyata yang sedang menunggu pesanan adalah keponakannya. Dia akan ke Malaysia dan ingin membawa cookies buatan si ibu ini untuk oleh-oleh sanak saudara di sana.

Selesai urusan pesanan, pamitlah sang ponakan untuk mengurus ini-itu sebelum berangkat ke Malaysia keesokan harinya. Lalu saya melanjutkan obrolan dengan ibu pemilik Choco Rang, yang tidak terlalu mengerti bahasa Inggris dan Indonesia namun bisa mengucapkan ‘terima kasih’ dan ‘silakan’. Obrolan berlanjut, ternyata beliau adalah cucu dari KHA Dahlan yang masih saudara jauh dengan keluarga kami di Jogja. Mama sempat menyuruh saya untuk mencari keluarga beliau, tapi saya menolak karena takut menjadi beban harus ketemu. Ternyata malah tidak disengaja, saya langsung bertemu di hari pertama saya berada di Bangkok! Sungguh kebetulan yang luar biasa. 🙂

Ibu Walidah, nama beliau. Nama yang langsung membuat saya berpikir bahwa beliau adalah keluarga Ahmad Dahlan, karena Walidah adalah nama kecil Nyi Ahmad Dahlan. Adik dari Ibu Walidah bisa berbahasa Indonesia dengan lancar, dan Ibu Walidah menelepon adiknya untuk berbicara dengan saya. Saya merasa senang sekali, dan sebelum saya pamit, Ibu Walidah memberi catatan kecil yang berisi nama dan nomor ponsel anaknya. Beliau khawatir saya sendirian dan sewaktu-waktu butuh bantuan. :’)

***

Baru cerita sampai setengah hari saja, sudah tahu kan mengapa Air Asia mengubah hidup saya??

Belum paham juga? Coba baca ulang dari awal. 😀

Karena tidak mungkin untuk menceritakan semuanya di sini, maka saya sertakan saja foto-foto sebagai teaser serunya perjalanan saya ke Bangkok selama lima hari.

***

Terima kasih semesta mempertemukan saya dengan Meli dan Air Asia.

Semoga Air Asia panjang umur!

Semoga Air Asia bisa menjadi perpanjangan kaki bagi para pendaki kehidupan. :’)

IMG-20140415-WA0003

1606511_10152212039784300_871351027701047473_o

10257127_10152297111089300_4310699875729730219_o

Advertisements

Masjid Margo Yuwono, Langenastran, Kraton

Jika sedang bepergian berputar-putar kota, masih jauh dari rumah dan sudah masuk waktu salat, saya biasa mampir masjid di jalan untuk menunaikan salat sebelum melanjutkan perjalanan. Sering hanya tempat salat seadanya, atau masjid yang ‘seadanya’. Kadang merasa tidak nyaman.

Namun kemarin saya cukup beruntung. Ketika bersama mama, kami pergi ke daerah dekat alun-alun selatan. Waktu menunjukkan pukul 16.14 dan mama meminta untuk mampir masjid dahulu. Keberuntungan saya adalah, yang ada di depan mata yaitu Masjid Margo Yuwono yang memiliki arsitektur bangunan kuno dan bagus sekali. Nyaman, luas, adem, tenang. Lalu saya menyempatkan untuk mengambil beberapa foto di sana.

MMY depan

MMY depan samping

MMY dalem

MMY samping

MMY jam

Menyenangkan sekali ya, rasanya ingin berlama-lama di sana. Menurut papan yang terpampang di depan masjid, masjid Margo Yuwono ini memiliki yayasan juga, jadi kegiatannya luas dan konsisten. Kalau saya tidak salah ingat, selain TPA yang biasa ada di masjid, di sini juga ada pelatihan ustad. Dan sedang dalam proses pembangunan gedung untuk dakwah. Ah, ingatan saya buruk sekali. Silakan merasakan sendiri ademnya salat di Masjid Margo Yuwono Langenastran, Yogyakarta.

 

Kedai Rakjat Djelata / Yogyakarta

Cukup lama mendengar kabarnya, kemarin entah mendapat wangsit apa, saya akhirnya mencicipi tempat makan ini. Kedai Rakjat Djelata. Sebelumnya saya sempat membuka-buka halaman facebook kedai ini dan menemukan hal-hal yang unik. Sepertinya mereka lebih galak daripada pengunjung, karena belum apa-apa sudah terpampang jelas bahwa pelanggan tidak boleh protes dan harus tertib antri. Hahaha. Dan akhirnya saya merasakannya sendiri.

Melangkahkan kaki ke dalam kedai, saya datang sekitar pukul 19.30. Langsung disambut oleh antrian panjang di bagian depan.

antrian makanan

antrian makanan

Semakin lama saya di sana, semakin mengantri saja. Awalnya saya bingung, lalu saya sibuk bertanya kepada pramusaji yang berlalu-lalang. Ternyata, untuk menu makanan saja yang harus mengantri berdiri di situ, dan menunya tergantung apa yang ada hari itu. Ketika saya di sana, yang tersaji ada semur sayap, brongkos, oseng-oseng janggel, oseng-oseng tempe pete, oseng-oseng soun, bermacam-macam baceman, sate, dan gorengan. Ketika sampai giliran kita, sebutkan menu apa yang ingin kita makan, dan akan ada dua orang yang melayani. Satu orang mengambilkan pesanan, satu orang mencatatnya di nota. Oiya, mereka juga menyediakan nasi merah.

oseng soun, oseng daun pepaya, bacem kepala ayam

oseng soun, oseng daun pepaya, bacem kepala ayam

Selesai dengan makanan, bagaimana dengan minumannya? Iya, kita tidak perlu mengantri lama untuk memesan minuman. Ada counter khusus pemesanan minuman.

tempat memesan minuman

tempat memesan minuman

Ada papan tulis yang terpasang, berisi minuman apa yang tersedia hari itu. Ada es kiyer (gula asem), ada cincau hitam, es camcau, dan lain sebagainya. Namun selain itu, ada juga menu yang menampilkan minuman-minuman yang selalu ada setiap harinya. Menu itu juga menawarkan roti bakar dan pisang bakar bagi yang ingin mencari camilan nikmat sebagai teman mengobrol.

roti bakar sarden tomat

roti bakar sarden tomat

Dan inilah sudut-sudut yang ditawarkan oleh Kedai Rakjat Djelata:

KRD - sudut2

Nyaman sekali bukan? Maka inilah hasil duduk cantik di sana bertiga selama 3,5 jam:

KRD - no. 17 dgn tumpukan nota tak terhingga

Hahahaaa, agak nggilani yaaa. Berapa tagihan untuk tujuh lembar nota? Yakk, Rp 77.000,00.

Selamat mencoba, dan selalu ingat pesan Kedai Rakjat Djelata:

"orang sabar dicintai"

“orang sabar dicintai”

Jagung Susu dan Roti Gandum

Saya suka sekali jagung manis. Tapi jika sudah beberapa hari makan jagung rebus, kadang saya bosan. Lalu saya mencari alternatif lain untuk menikmati jagung manis.

Resep berikut ini saya hanya mengarangnya saja, jadi silakan komposisi bahan dan improvisasinya diperkirakan sendiri jika ingin mencoba 😀

Bahan:

1. satu genggam jagung manis pipil

2. ± 100 ml susu cair (bukan susu kental manis)

3. ± 1 sdt gula pasir (karena saya ingin rasa manis)

4. keju semaunya

5. dua lembar roti gandum (semua roti terbuat dari gandum)

6. mentega

Cara membuat:

1. Olesi satu sisi roti dengan mentega, lalu masukkan oven listrik selama 5 menit. Bagian atas yang bermentega dan jangan ditutup supaya hasilnya nanti kering. Alternatif lainnya, panaskan roti di atas wajan (atau teflon).

2. Masukkan susu dan jagung mentah ke dalam panci, nyalakan api. Ketika mulai hangat, aduk-aduk sampai mendidih, masukkan mentega 1 sdt, gula, dan keju parut. Aduk-aduk sampai agak asat.

Sudah beres. Selamat menikmati dengan cara apapun sesukamu 😀

jagung susu dan roti gandum

jagung susu dan roti gandum

Pameran Fotografi “Jogja Berhenti Nyaman”

Hari Rabu tanggal 5 Maret 2014 kemarin, saya berkesempatan mengunjungi pameran fotografi yang diadakan oleh Pewarta Foto Indonesia, bertempat di Kotagede. Pameran ini bertajuk “Jogja Berhenti Nyaman”, menyajikan gambar-gambar indah nan menyakitkan. Sebuah ironi. Gambar-gambar yang mempertanyakan kenyamanan Jogja. Mengapa “Jogja Berhati Nyaman” harus menjadi “Jogja Berhenti Nyaman”.

Pameran Fotografi "Jogja Berhenti Nyaman"

Pameran Fotografi “Jogja Berhenti Nyaman”

Pameran ini diadakan di Joglo Sopingen dan dua rumah di dekatnya (yang saya lupa namanya dan tidak saya catat). Yang pasti jika ingin ke sana, dari Pasar Legi Kotagede jalan ke arah barat, akan bertemu Toko Satria di kiri jalan. Di depan toko tersebut ada gang masuk ke perkampungan yang isinya rumah-rumah lawas yang sangat-sangat bagus dan menenangkan. Di situlah pameran ini berada.

salah satu sudut pameran

salah satu sudut pameran

Banyak gambar yang menarik bagi saya, misalnya bagaimana image polisi di mata saya berubah jika mereka sedang berada di tengah-tengah demo atau tawuran. Biasanya, jika di jalan atau urusan birokrasi, saya cukup sebal dengan polisi. Karena terkesan ‘menjadikan pengendara sebagai sasaran empuk pemerasan halus’. Tetapi di dua gambar ini, saya cukup simpatik dengan mereka.

Yang pertama, polisi yang melindungi kepalanya menggunakan kursi ketika terjadi kerusuhan di stadion sepakbola.

polisi melindungi kepala dari amukan suporter

polisi melindungi kepala dari amukan suporter

keterangan polisi kursi

Atau gambar berikut ini, seorang polisi berusaha menghentikan tawuran pelajar sekolah menengah atas dengan melepaskan tembakan peringatan ke udara.

tembakan peringatan di tengah tawuran

tembakan peringatan di tengah tawuran

PicsArt_1394107869624

Gambar berikutnya sangat menarik bagi saya, menunjukkan seorang bule yang mendorong anaknya di dalam stroller menyeberang di depan Kantor Pos Besar Yogyakarta – Serangan Oemoem Satoe Maret (nol kilometer), lalu satu pengendara motor yang lewat mengerem sampai terjatuh persis di depan si penyeberang jalan. Unik, karena ada yang sempat mendapatkan moment tersebut dan memotretnya.

bule menyeberang jalan

Dan ini adalah banjir yang terjadi di beberapa tempat di Jogja, yang sedang ‘dinikmati’ oleh para tukang becak di jalan dan seorang nenek beserta anak perempuan kecil di dalam rumah. Saya melihat gambar nenek dan anak perempuan itu begitu nyata dan hidup.

Silakan menikmati sendiri keindahan-keindahan karya para Pewarta Foto Indonesia. Selain pameran foto, kita juga bisa merasakan aura kenyamanan dengan pemandangan kampung pemukiman di Kotagede.

Dear Mas Sigit…

[Posting ini dibuat dalam rangka mengikuti kontes Pre Wedding Rush Love Letter Contest yang disponsori @Stiletto_Book dan @Route28_Tees]

~

Mas Sigit, apa kabar?
Ah, seharusnya aku tak perlu bertanya ya. Pasti saat ini Mas sudah siaga di Sinabung. Atau Kelud. Semoga Mas Sigit selalu sehat dan banyak rezeki, banyak kesehatan. Dunia ini butuh orang seperti Mas Sigit dalam jumlah berkali-kali lipat.
Mas Sigit, bagaimanapun, aku ingin bilang bahwa aku sangat marah atas apa yang mereka lakukan. Ah, bahkan nama mereka saja aku malas menyebutnya. Dua orang brengsek yang tidak tahu diri itu. Oh maaf, mereka tetap orang-orang yang (pernah) menjadi bagian hidupmu ya. Mudah-mudahan Mas tidak membenciku karena aku membenci mereka.
Aku tahu ini sudah terlewat sekian lama. Memang aku baru berani mengirimimu surat sekarang. Karena aku ingin memberi ruang pada Mas Sigit, supaya waktu yang membantu Mas untuk melanjutkan hidup. Mas pasti tidak butuh orang-orang sepertiku, yang mungkin akan mengingatkan Mas pada tragedi itu.
Tapi seperti yang aku tahu, Mas tidak suka larut dalam kemarahan dan kesedihan. Buat Mas, berbagi cinta pada sesama adalah yang utama. Buat apa memikirkan nasib sial yang menimpa kita, kata Mas waktu itu. Pada akhirnya, mereka-mereka yang ada di tenda pengungsian adalah kebahagiaanmu sepenuhnya. Aku selalu mengikuti kabarmu Mas, lewat adik-adik yang sekarang menjadi ‘pengikut’-mu, yang kaurawat semasa gempa Jogja 2006.
Cukuplah surat ini berbicara, hanya ingin memberitahumu, bahwa selalu ada orang yang siap menemanimu. Kapanpun, di manapun. Dan aku berharap kita dapat segera bertemu.

Love,
Ponti.

Sate Padang Salero

Saya adalah penggemar sate padang, walaupun belum pernah memakan versi aslinya di Padang sana atau minimal wilayah Sumatera bagian utara. Yang saya suka dari sate padang adalah bumbu kentalnya, buat saya itu tiada duanya.

Nah, di Jogja, saya menemukan satu bendera sate padang yang menurut saya paling enak dibandingkan dengan sate padang yang lain, yaitu Sate Padang Salero.

Ada dua lokasi sate padang Salero yang saya ketahui. Satu ada di Jl. Kaliurang, sebelah utara perempatan Mirota Kampus, di barat jalan. Kurang lebih di trotoar depan Sekolah Vokasi UGM. Yang satu lagi di trotoar Mandala Krida sisi barat, di Jl. Andong.

sate padang salero

sate padang salero

Kalau ada yang punya rekomendasi lain, saya tunggu! 😉

Lesehan Terang Bulan Malioboro

Pernah dengar tentang lesehan ini? Yapp, lesehan yang terkenal dengan bebeknya (dan burung dara) ini terletak di Jl. Malioboro, buka setiap malam mulai pukul 21.00. Nah kan, perjuangan banget kan mau makan di sana. 😀

Lesehan ini berada di trotoar sebelah timur Jl. Malioboro, kira-kira 10 menit jika jalan kaki santai dari Dagen, dan mungkin sekitar 15 menit jika berjalan dari Sosrowijayan ke arah selatan. Letaknya persis di depan toko batik Terang Bulan. Bener banget, nama Lesehan Terang Bulan diambil dari situ, sederhana kan? 😉

Jadi, sepanjang hari toko batik itu beroperasi, sekitar pukul 20.30, gerobak-gerobak lesehan mulai berdatangan dan mereka mulai menata dagangan. Selama toko belum tutup, maka tikar dan meja belum digelar. Mereka merapikan meja, menyiapkan menu, wajan, dan lain sebagainya.

karyawan yang mulai bersiap-siap dan toko batik yang masih buka

karyawan yang mulai bersiap-siap dan toko batik yang masih buka

Sekitar sepuluh menit sebelum pukul 9, karyawan toko mulai merapikan dan menutup tokonya. Inilah saatnya ‘pergantian shift’. Toko batik berganti menjadi lesehan bebek.

toko batik Terang Bulan yang mulai tutup

toko batik Terang Bulan yang mulai tutup

Betapa penuh toleransi ya, hihihiii 🙂

Tepat pukul sembilan, semua sudah siap. Tikar sudah digelar, meja sudah ditata. Dan sudah banyak yang langsung memenuhi trotoar. Wow, ternyata yang menunggu seperti saya dan teman-teman banyak juga ya 😀

Langsung kesibukan memesan-menunggu-memakan dimulai, inilah dia beberapa penampakan kelezatan di sana:

es sirup (yang membuat salah satu teman saya ketagihan) :D

es sirup (yang membuat salah satu teman saya ketagihan) 😀

bebek bakar :'9

bebek bakar :’9

bebek goreng dan ati ampela (ayam) goreng

bebek goreng dan ati ampela (ayam) goreng

Bebeknya, entah bagaimana mengolahnya, rasanya sangat pas dan enak dan merata, dan empuk luar biasa! Tidak terasa terlalu asin atau terlalu berbumbu di luar namun anyep di bagian dalam. Tidak. Semuanya sangat pas dan merata (diulang lagi) hahaha.

Dan citarasa khasnya di sini yang membuat saya ketagihan. Berbeda dengan bebek-bebek lain ataupun warung bebek yang banyak cabangnya itu.

Selain bebek, tersedia juga menu burung dara dan ayam. Kalau burung dara saya belum pernah mencoba, karena alasan klasik, mahal. Kalau ayam, saya pernah mencoba cekernya, rasanya enak juga. Aduh sepertinya tidak ada yang tidak enak di sana!

Oiya, tersedia juga pete, kol (kubis) goreng, terong, ceker, kepala ayam bagi yang berminat.

Jadi, silakan penasaran! 😉

Pie Susu (dan Lotion) dari Bali

Suatu maghrib, petugas JNE terdengar berteriak dari depan pagar rumah saya. Saya berpikir, paket apa ya hari gini. Tidak merasa menunggu apapun.

Ternyata saya lupa, Mbak Acid, seorang teman yang saya kenal melalui media sosial twitter, baru pulang dari liburan di Bali dan berjanji mengirimi saya oleh-oleh pie susu karena saya belum pernah makan pie susu Bali. Ih kasian ya saya. Kenapa harus dikirim? Ya karena dia di Jakarta dan saya di Jogja. Jarak yang jauh tidak menghalangi niat baik ya 🙂

Dan ternyata, Mbak Acid memberikan bonus! Lotion andalan yang sering dia pamerin (yang ternyata enak banget dipake!) yang belinya kudu di Bali. HIH. Gawat aku mulai ikut kecanduan : ))

Jadi kami berdua adalah orang-orang yang sebisa-mungkin-gak-usah-pake-lotion-deh-genggeus. Nah Mbak Acid punya satu-satunya produk lotion yang dia suka, yang makenya juga untuk sikon tertentu. (oh ternyata lotion seribet ini hahaha) Kemudian Mbak Acid meracuni sayaaa…

Jadi inilah berkah maghrib saya beberapa hari lalu :*

pie susu dan lotion chamomile dari baliJadi sekarang saya sudah pernah makan pie susu. Hore!

Telimakaciii Mbak Acid, semoga kita cepat bisa saling melihat wujud asli masing-masing dan mengobrol bodoh ala WhatsApp secara tatap muka. :*

Roti Isi Mayones-Telur dan Daging Cincang

Saya kalau memberi judul pasti sudah sangat jelas kan ya? Hihihiii.

Jadi di kulkas saya ada telur rebus yang nganggur, dari hantaran kenduri kampung sebelah. Pengen makan tapi males makan telur rebus langsung. Akhirnya terjadilah ini semua…

1. telur rebus

2. mayones

3. daging sapi cincang

4. bawang bombay

5. roti tawar

6. mentega

7. keju

8. tomat

***

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah, hancurkan telur rebus, lalu beri campuran mayones antara 1-2 sendok makan. Nah ini adalah rasa utama yang ingin saya dapatkan, karena sesungguhnya telur rebus hancur yang bertemu dengan mayones itu nikmatnya tiada tara.

Kedua, tulis bawang bombay dan daging cincang menggunakan mentega, lalu sesuaikan rasanya dengan membubuhkan garam dan merica.

Ambil dua lembar roti, masing-masing oleskan mentega di salah satu sisinya. Sisi yang tidak diolesi mentega adalah sisi yang akan kita jadikan bagian dalam tangkupan.

Siapkan lembaran roti, taruh potongan-potongan tomat di bagian paling dasar, lalu tuangkan mayones-telur tadi. Setelah itu, tumpuk dengan tumisan  daging cincang dan bawang bombay, lalu taburi keju parut (atau keju lembaran juga bisa). Tutup dengan lembar roti yang satunya.

Terakhir, panaskan teflon, bakar sebentar roti tangkup tersebut sampai berwarna keemasan. Balik. Angkat.

Perlu diperhatikan saat memanaskan roti dengan teflon agar berhati-hati, supaya bentuknya terjaga dan isinya tidak menyebar ke mana-mana.

Nah, selamat menikmati 😉

roti isi mayones-telur dan daging cincang

roti isi mayones-telur dan daging cincang

%d bloggers like this: